Hutang untuk Bayar Hutang Bikin Finansial Makin Tak Sehat




Sekarang ini jasa pinjaman uang makin banyak, dengan limit kecil hingga besar. Dulu, tidak muda mengakses pinjaman, harus ada jaminan, itupun lewat Bank besar dengan jumlah minimal pinjaman yang besar juga.

Sekarang, banyak lembaga swasta membuka jasa pinjaman, bahkan ada yang berbasis online. Iklan-iklan bermunculan, bahkan banyak sekali SMS yang menawarkan pinjaman.

Sehingga, saat ini banyak yang terjebak hutang untuk bayar hutang. Misalnya hutang di bank A, karena tiba masa angsuran dan tidak bisa membayar maka hutang di bank B untuk membayar angsuran atau sisa angsuran dari bank A.

Sayangnya, pihak Bank terutama KPR atau bank pemberi pinjaman dengan jumlah kecil juga tak punya data yang valid apakah di peminjam bisa membayar sesuai aturan. Belum lagi target mencari nasabah yang membuat kejar setoran.

Dengan menerapkan hutang untuk bayar hutang, itu membuat finansial makin memburuk. Kenapa? Ya sebab tetap akan membayar bunga ke dua belah pihak. Meskipun hutang untuk melunasi hutangan yang lain, dalam pelunasan hutang itu ada bunga yang dibayarkan.

Belum lagi potensi untuk terjerat hutang ke peminjam lainnya karena, lagi-lagi, tak bisa membayar angsuran seperti sebelumnya. Akhirnya akan terjerat hutang satu ke hutang lainnya.

Direncanakan sejak awal

Perlu ada edukasi finansial / literasi finansial, untuk apa berhutang atau melakukan pinjaman? Tentu bukan untuk konsumsi, melainkan produksi. Ini penting.

Uang pinjaman harus "diputar" lagi agar bisa menghasilkan lebih banyak, termasuk untuk membayar angsuran itu sendiri.

Jika meminjam uang karena desakan konsumsi, lalu akan dibayar ketika nanti gajian, mending bersabar dahulu sampai gajian. Karena toh meski bisa dibayar ketika gajian, tetap ada bunga yang dibayarkan. Apa salahnya bersabar?

Jadi, jangan hutang untuk konsumsi. Hutang lah untuk produksi, lalu desain itu supaya tidak terulang lagi. Artinya kebutuhan berikutnya bisa tercover oleh tabungan, tidak perlu hutang lagi.

Ingat, sehat itu juga dari segi finansial. Bukan berarti harus kaya raya, namun setidaknya punya kemampuan pengelolaan yang baik, memilah antara kebutuhan dan keinginan.

Masa hutang buat bayar hutang? Kapan dong merdeka secara finansial?

Post a Comment

0 Comments